Islam telah dikenal
di Indonesia pada
abad pertama Hijriyah atau
7 Masehi,
meskipun dalam frekuensi yang tidak terlalu besar hanya melalui perdagangan
dengan para pedagang muslim yang
berlayar ke Indonesia untuk singgah untuk beberapa waktu. Pengenalan Islam
lebih intensif, khususnya di Semenanjung Melayu dan Nusantara,
yang berlangsung beberapa abad kemudian.
Agama islam pertama masuk ke Indonesia melalui
proses perdagangan, pendidikan dan lain-lain.
Sunan
Ampel
Sunan Ampel pada
masa kecilnya bernama Raden Rahmat, dan diperkirakan lahir pada
tahun 1401 di Champa.
Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh
Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu
negeri kecil yang terletak di Kamboja.
Pendapat lain, Raffles menyatakan
bahwa Champa terletak di Aceh yang
kini bernamaJeumpa.
Menurut beberapa riwayat, orang tua Sunan Ampel adalah Makhdum
Ibrahim (menantu Sultan Champa dan ipar Dwarawati). Dalam catatan Kronik Cina dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel
dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng - seorang
Tionghoa (suku Hui beragama
Islam mazhab Hanafi)
yang ditugaskan sebagai Pimpinan Komunitas Cina di Champa oleh Sam Po Bo.
Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fu - menantu Haji Bong Tak Keng
ditempatkan sebagai duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan
Haji Gan En Cu juga telah ditugaskan sebagai kapten Cina di Tuban. Haji Gan En
Cu kemudian menempatkan menantunya Bong Swi Hoo sebagai kapten Cina
di Jiaotung (Bangil).
Sementara itu seorang
putri dari Kyai Bantong (versi Babad Tanah Jawi) alias Syaikh
Bantong (alias Tan Go Hwat menurut Purwaka Caruban Nagari)
menikah dengan Prabu Brawijaya V (aliasBhre Kertabhumi) kemudian melahirkan
Raden Fatah. Namun tidak diketahui apakah ada hubungan antara Ma Hong Fu dengan
Kyai Bantong.
Dalam Serat Darmo Gandhul,
Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad merupakan keponakan dari Putri Champa permaisuri
Prabu Brawijaya yang
merupakan seorang muslimah.
Raden Rahmat dan Raden
Santri adalah anak Makhdum Ibrahim (putra Haji Bong Tak Keng), keturunan
suku Hui dari Yunnan yang
merupakan percampuran bangsa Han/Tionghoa dengan bangsa Asia Tengah
(Samarkand). Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh/Abu Hurairah (cucu
raja Champa) pergi ke Majapahit mengunjungi bibi mereka bernama Dwarawati
puteri raja Champa yang menjadi permaisuri raja Brawijaya. Raja Champa saat itu
merupakan seorang muallaf. Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh
akhirnya tidak kembali ke negerinya karena Kerajaan Champa dihancurkan oleh
Kerajaan Veit Nam.
Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (=
Hikayat Banjar resensi I), nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu, anak
Sultan Pasai.
Beliau datang ke Majapahit menyusul/menengok kakaknya yang diambil istri oleh
Raja Mapajahit. Raja Majapahit saat itu bernama Dipati Hangrok dengan
mangkubuminya Patih Maudara (kelak Brawijaya VII) . Dipati Hangrok
(aliasGirindrawardhana alias Brawijaya VI)
telah memerintahkan menterinya Gagak Baning melamar Putri Pasai dengan membawa
sepuluh buah perahu ke Pasai. Sebagai kerajaan Islam, mulanya Sultan Pasai
keberatan jika Putrinya dijadikan istri Raja Majapahit, tetapi karena takut
binasa kerajaannya akhirnya Putri tersebut diberikan juga. Putri Pasai dengan
Raja Majapahit memperoleh anak laki-laki. Karena rasa sayangnya Putri Pasai
melarang Raja Bungsu pulang ke Pasai. Sebagai ipar Raja Majapahit, Raja Bungsu
kemudian meminta tanah untuk menetap di wilayah pesisir yang dinamakan
Ampelgading. Anak laki-laki dari Putri Pasai dengan raja Majapahit tersebut
kemudian dinikahkan dengan puteri raja Bali. Putra dari Putri Pasai tersebut
wafat ketika istrinya Putri dari raja Bali mengandung tiga bulan. Karena
dianggap akan membawa celaka bagi negeri tersebut, maka ketika lahir bayi ini
(cucu Putri Pasai dan Brawijaya VI) dihanyutkan ke laut, tetapi kemudian dapat
dipungut dan dipelihara oleh Nyai Suta-Pinatih, kelak disebut Pangeran Giri.
Kelak ketika terjadi huru-hara di ibukota Majapahit, Putri Pasai pergi ke
tempat adiknya Raja Bungsu di Ampelgading. Penduduk desa-desa sekitar memohon
untuk dapat masuk Islam kepada Raja Bungsu, tetapi Raja Bungsu sendiri merasa
perlu meminta izin terlebih dahulu kepada Raja Majapahit tentang proses
islamisasi tersebut. Akhirnya Raja Majapahit berkenan memperbolehkan penduduk
untuk beralih kepada agama Islam. Petinggi daerah Jipang menurut aturan dari
Raja Majapahit secara rutin menyerahkan hasil bumi kepada Raja Bungsu. Petinggi
Jipang dan keluarga masuk Islam. Raja Bungsu beristrikan puteri dari petinggi
daerah Jipang tersebut, kemudian memperoleh dua orang anak, yang tertua seorang
perempuan diambil sebagai istri oleh Sunan Kudus (tepatnya Sunan
Kudus senior/Undung/Ngudung), sedang yang laki-laki digelari sebagaiPangeran Bonang.
Raja Bungsu sendiri disebut sebagai Pangeran Makhdum.
Silsilah
Sunan Ampel @ Raden
Rahmat @ Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
Maulana Malik Ibrahim @
Ibrahim Asmoro bin
Ahmad Jalaludin Khan
bin
Abdullah Khan bin
Abdul Malik Al-Muhajir
(Nasrabad,India) bin
Alawi Ammil Faqih
(Hadhramaut) bin
Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)
Ali Kholi' Qosam bin
Alawi Ats-Tsani bin
Muhammad Sohibus
Saumi'ah bin
Alawi Awwal bin
Ubaidullah bin
Ahmad al-Muhajir bin
Isa Ar-Rumi bin
Muhammad An-Naqib bin
Ali Uraidhi bin
Imam Husain bin
Jadi, Sunan Ampel
memiliki darah Uzbekistan dan Champa dari sebelah ibu. Tetapi dari ayah leluhur
mereka adalah keturunan langsung dari Ahmad al-Muhajir, Hadhramaut.
Bermakna mereka termasuk keluarga besar Saadah BaAlawi.
Isteri
dan Anak
Isteri Pertama, yaitu:
Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo Al-Abbasyi,
berputera:
Siti Syari’ah/ Nyai Ageng Maloka/ Nyai Ageng
Manyuran
Siti Muthmainnah
Siti Hafsah
Isteri Kedua
adalah Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning, berputera:
Sejarah
dakwah
Syekh Jumadil Qubro,
dan kedua anaknya, Maulana Malik Ibrahim (Makdum Ibrahim/Haji Bong Tak Keng)
dan Maulana Ishak bersama sama datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka
berpisah, Syekh Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim
ke Champa,
Vietnam Selatan, dan adiknya Maulana Ishak mengislamkan Samudra Pasai.
Di Kerajaan Champa,
Maulana Malik Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Champa, yang akhirnya mengubah
Kerajaan Champa menjadi Kerajaan Islam. Akhirnya dia dijodohkan dengan putri
raja Champa (adik Dwarawati), dan lahirlah Raden Rahmat. Di kemudian hari
Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa tanpa diikuti keluarganya.
Sunan Ampel datang ke
pulau Jawa pada
tahun 1443,
untuk menemui bibinya, Dwarawati. Dwarawati adalah seorang putri Champa yang
menikah dengan raja Majapahit yang
bernama Prabu Kertawijaya.
Sunan Ampel menikah
dengan Nyai Ageng Manila, putri seorang adipati di Tuban yang
bernama Arya Teja. Mereka dikaruniai 4 orang anak, yaitu:
Putri Nyai Ageng
Maloka,
Sunan Ampel
diperkirakan wafat pada tahun 1481 di
Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
Sunan
Bonang
Sunan
Bonang dilahirkan pada tahun 1465,
dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan
Nyai Ageng Manila. Bonang adalah
sebuah desa dikabupaten Rembang.
Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama
ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.
Sunan Bonang wafat pada
tahun 1525 M,
dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi
adalah makamnya di kota Tuban. Lokasi makam Sunan
Bonang ada dua karena konon, saat beliau meninggal, kabar wafatnya beliau
sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat
mengagumi beliau sampai ingin membawa jenazah beliau ke Madura. Namun, murid
tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan
pakaian-pakaian beliau. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang
yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa
jenazah Sunan Bonang. Mereka memperebutkannya.
Dalam Serat Darmo
Gandhul, Sunan Bonang disebut Sayyid Kramat merupakan seorang Arab keturunan
Nabi Muhammad.
Silsilah
Sunan Bonang (Makdum
Ibrahim) bin
Sunan Ampel (Raden Rahmat)
Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
Syekh Jumadil Qubro (Jamaluddin
Akbar Khan) bin
Ahmad Jalaludin Khan
bin
Abdullah Khan bin
Muhammad Sohib Mirbath (dari
Hadramaut) bin
Ali Kholi' Qosam bin
Alawi Ats-Tsani bin
Muhammad Sohibus
Saumi'ah bin
Alawi Awwal bin
Ubaidullah bin
Muhammad Syahril
Ali Zainal 'Abidin bin
Hussain bin
Karya
Sastra
Sunan Bonang banyak
menggubah sastra berbentuk suluk atau
tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya
Abu Sa'id Al Khayr. Sunan Bonang juga menggubah tembang Tamba Ati (dari bahasa Jawa,
berarti penyembuh jiwa) yang kini masih sering dinyanyikan orang.
Ada pula sebuah karya
sastra dalam bahasa Jawa yang
dahulu diperkirakan merupakan karya Sunan Bonang dan oleh ilmuwan Belanda seperti
Schrieke disebut Het Boek van Bonang atau
buku (Sunan) Bonang. Tetapi oleh G.W.J. Drewes, seorang pakar Belanda
lainnya, dianggap bukan karya Sunan Bonang, melainkan dianggapkan sebagai
karyanya.
Keilmuan
Sunan Bonang juga
terkenal dalam hal ilmu kebathinannya. Ia mengembangkan ilmu (dzikir) yang
berasal dari Rasullah SAW, kemudian beliau kombinasi dengan kesimbangan
pernapasan yang disebut dengan rahasia Alif Lam Mim ( ا ل م ) yang artinya
hanya Allah SWT yang tahu. Sunan Bonang juga menciptakan gerakan-gerakan fisik
atau jurus yang Beliau ambil dari seni bentuk huruf Hijaiyyah yang berjumlah 28
huruf dimulai dari huruf Alif dan diakhiri huruf Ya'. Ia menciptakan Gerakan
fisik dari nama dan simbol huruf hijayyah adalah dengan tujuan yang sangat
mendalam dan penuh dengan makna, secara awam penulis artikan yaitu mengajak
murid-muridnya untuk menghafal huruf-huruf hijaiyyah dan nantinya setelah
mencapai tingkatnya diharuskan bisa baca dan memahami isi Al-Qur'an. Penekanan
keilmuan yang diciptakan Sunan Bonang adalah mengajak murid-muridnya untuk
melakukan Sujud atau Salat dan dzikir. Hingga sekarang ilmu yang diciptakan
oleh Sunan Bonang masih dilestarikan di Indonesia oleh generasinya dan
diorganisasikan dengan nama Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia
Sunan
Muria
Sunan
Muria dilahirkan dengan nama Raden Umar Said atau Raden
Said. Menurut beberapa riwayat, dia adalah putra dari Sunan Kalijaga yang
menikah dengan Dewi Soejinah, putri Sunan Ngudung.
Nama Sunan Muria sendiri diperkirakan berasal dari nama gunung (Gunung Muria),
yang terletak di sebelah utara kota Kudus, Jawa Tengah,
tempat dia dimakamkan.
Sunan
Gunung Jati
Sunan Gunung
Jati atau Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450 M,
namun ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir pada sekitar 1448 M.
Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar
di Jawa bernama walisongo.
Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya Walisongo yang menyebarkan Islam
di Jawa Barat.
Orang
tua
Ayah
Sunan Gunung
Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar tahun 1450.
Ayahnya adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar, seorang
Mubaligh dan Musafir besar dariGujarat, India yang
sangat dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar bagi
kaum Sufi di tanah air. Syekh Maulana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra
Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath,
ulama besar di Hadramaut, Yaman yang
silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui
cucunya Imam Husain.
Ibu
Ibu Sunan Gunung Jati
adalah Nyai Rara Santang (Syarifah
Muda'im) yaitu putri dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari
Nyai Subang Larang, dan merupakan adik dari Kian Santang dan Pangeran
Walangsungsang yang bergelar Cakrabuwana / Cakrabumi atau Mbah Kuwu Cirebon
Girang yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang
Muballigh asal Baghdad bernama
asliIdhafi Mahdi bin Ahmad.
Ia dimakamkan bersebelahan dengan putranya yaitu Sunan Gunung Jati di Komplek
Astana Gunung Sembung ( Cirebon )
Silsilah
.Sunan Gunung Jati @
Syarif Hidayatullah Al-Khan bin
.Sayyid 'Umadtuddin
Abdullah Al-Khan bin
.Sayyid 'Ali Nuruddin
Al-Khan @ 'Ali Nurul 'Alam bin
.Sayyid Ahmad Shah
Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
.Sayyid Abdullah
Al-'Azhomatu Khan bin
.Sayyid Amir 'Abdul
Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin
.Sayyid Alawi Ammil
Faqih (Hadhramaut) bin
.Sayyid Ali Kholi'
Qosim bin
.Sayyid Alawi Ats-Tsani
bin
.Sayyid Muhammad
Sohibus Saumi'ah bin
.Sayyid Alawi Awwal bin
.Sayyid Al-Imam
'Ubaidillah bin
.Sayyid 'Isa Naqib
Ar-Rumi bin
.Sayyid Muhammad
An-Naqib bin
.Sayyid Al-Imam Ali
Uradhi bin
.Sayyidina Ja'far
As-Sodiq bin
.Sayyidina Muhammad Al
Baqir bin
.Sayyidina 'Ali Zainal
'Abidin bin
.Al-Imam Sayyidina
Hussain
Silsilah
dari Raja Pajajaran
.Sunan Gunung Jati @
Syarif Hidayatullah
.Rara Santang (Syarifah
Muda'im)
.Prabu Jaya Dewata @
Raden Pamanah Rasa @ Prabu Siliwangi II
.Prabu Dewa Niskala
(Raja Galuh/Kawali)
.Niskala Wastu Kancana
@ Prabu Siliwangi I
.Prabu Linggabuana @
Prabu Wangi (Raja yang tewas di Bubat)
Pertemuan
orang tuanya
Pertemuan Rara Santang
dengan Syarif Abdullah cucu Syekh Maulana Akbar masih diperselisihkan. Sebagian
riwayat (lebih tepatnya mitos) menyebutkan bertemu pertama kali di Mesir,
tapi analisis yang lebih kuat atas dasar perkembangan Islam di pesisir ketika
itu, pertemuan mereka di tempat-tempat pengajian seperti yang di Majelis Syekh Quro,
Karawang (tempat belajar Nyai Subang Larang ibu dari Rara Santang) atau di Majelis Syekh
Datuk Kahfi, Cirebon (tempat belajar Kian Santang
dan Pangeran Walangsungsang, kakanda dari Rara Santang).
Syarif Abdullah cucu
Syekh Maulana Akbar, sangat mungkin terlibat aktif membantu pengajian di
majelis-majelis itu mengingat ayah dan kakeknua datang ke Nusantara sengaja
untuk menyokong perkembangan agama Islam yang telah dirintis oleh para
pendahulu.
Pernikahan Rara Santang
putri dari Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang dengan Abdullah cucu Syekh
Maulana Akbar melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Syarif
Hidayatullah.
Perjalanan
Hidup
Proses
belajar
Raden Syarif Hidayatullah
mewarisi kecendrungan spiritual dari kakek buyutnya Syekh Maulana Akbar
sehingga ketika telah selesai belajar agama di pesantren Syekh Datuk Kahfi ia
meneruskan ke Timur Tengah. Tempat mana saja yang dikunjungi masih
diperselisihkan, kecuali (mungkin) Mekah dan Madinah karena
ke 2 tempat itu wajib dikunjungi sebagai bagian dari ibadah haji untuk
umat Islam.
Babad Cirebon
menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuwana membangun kota Cirebon dan tidak
mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayatullah
mengambil peranan mambangun kota Cirebon dan
menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu setelah Uwaknya
wafat
Pernikahan
Memasuki usia dewasa
sekitar di antara tahun 1470-1480, ia menikahi adik dari Bupati Banten ketika
itu bernama Nyai Kawunganten.
Dari pernikahan ini, ia mendapatkan seorang putri yaituRatu Wulung Ayu dan Maulana Hasanuddin yang kelak
menjadi Sultan Banten I.
Kesultanan
Demak
Masa ini kurang banyak
diteliti para sejarawan hingga tiba masa pendirian Kesultanan Demak tahun
1487 yang mana ia memberikan andil karena sebagai anggota dari Dewan Muballigh
yang sekarang kita kenal dengan nama Walisongo.
Pada masa ini, ia berusia sekitar 37 tahun kurang lebih sama dengan usia Raden Patah yang
baru diangkat menjadi Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah. Bila Syarif
Hidayat keturunan Syekh Maulana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden Patah
adalah keturunannya juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa.
Dengan diangkatnya
Raden Patah sebagai Sultan di Pulau Jawa bukan hanya di Demak, maka Cirebon
menjadi semacam Negara Bagian bawahan vassal state dari kesultanan
Demak, terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif
Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan Cirebon.
Hal ini sesuai dengan
strategi yang telah digariskan Sunan Ampel, Ulama yang paling di-tua-kan di
Dewan Muballigh, bahwa agama Islam akan disebarkan di P. Jawa dengan Kesultanan
Demak sebagai pelopornya.
Gangguan
proses Islamisasi
Setelah pendirian Kesultanan Demak antara tahun 1490
hingga 1518 adalah masa-masa paling sulit, baik bagi Syarif Hidayat dan Raden
Patah karena proses Islamisasi secara damai mengalami gangguan internal dari
kerajaan Pakuan dan Galuh (di Jawa Barat)
dan Majapahit (di
Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan gangguan external dari Portugis yang
telah mulai expansi di Asia Tenggara.
Tentang personaliti
dari Syarif Hidayat yang banyak dilukiskan sebagai seorang Ulama kharismatik,
dalam beberapa riwayat yang kuat, memiliki peranan penting dalam
pengadilan Syekh Siti Jenar pada
tahun 1508 di pelataran Masjid Demak. Ia ikut membimbing Ulama berperangai
ganjil itu untuk menerima hukuman mati dengan lebih dulu melucuti ilmu
kekebalan tubuhnya.
Eksekusi yang dilakukan
Sunan Kalijaga akhirnya berjalan baik, dan dengan wafatnya Syekh Siti Jenar,
maka salah satu duri dalam daging di Kesultana Demak telah tercabut.
Raja Pakuan di awal
abad 16, seiring masuknya Portugis di Pasai dan Malaka, merasa mendapat sekutu
untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayat yang telah berkembang di Cirebon dan
Banten. Hanya Sunda Kelapa yang
masih dalam kekuasaan Pakuan.
Di saat yang genting
inilah Syarif Hidayat berperan dalam membimbing Pati Unus dalam
pembentukan armada gabungan Kesultanan Banten, Demak, Cirebon di P. Jawa dengan
misi utama mengusir Portugis dari wilayah Asia Tenggara. Terlebih dulu Syarif
Hidayat menikahkan putrinya untuk menjadi istri Pati Unus yang ke 2 pada tahun
1511.
Kegagalan expedisi
jihad II Pati Unus yang sangat fatal pada tahun 1521 memaksa Syarif Hidayat
merombak Pimpinan Armada Gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai(belakangan dikenal
dengan nama Fatahillah),untuk
menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka, sebagai Panglima berikutnya dan
menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di P. Jawa.
Sangat kebetulan karena
Raja Pakuan telah resmi mengundang Armada Portugis datang ke Sunda Kelapa
sebagai dukungan bagi kerajaan Pakuan yang sangat lemah di laut yang telah
dijepit oleh Kesultanan
Banten di Barat dan Kesultanan Cirebon di Timur.
Kedatangan armada
Portugis sangat diharapkan dapat menjaga Sunda Kelapa dari kejatuhan berikutnya
karena praktis Kerajaan Hindu Pakuan tidak memiliki lagi kota pelabuhan di P.
Jawa setelah Banten dan Cirebon menjadi kerajaan-kerajaan Islam.
Tahun 1527 bulan
Juni Armada Portugis datang dihantam serangan dahsyat dari Pasukan Islam yang
telah bertahun-tahun ingin membalas dendam atas kegagalan expedisi Jihad di
Malaka1521.
Dengan ini jatuhlah
Sunda Kelapa secara resmi ke dalam Kesultanan Banten-Cirebon dan di rubah nama
menjadi Jayakarta dan
Tubagus Pasai mendapat gelar Fatahillah.
Perebutan pengaruh
antara Pakuan-Galuh dengan Cirebon-Banten segera bergeser kembali ke darat.
Tetapi Pakuan dan Galuh yang telah kehilangan banyak wilayah menjadi sulit
menjaga keteguhan moral para pembesarnya. Satu persatu dari para Pangeran,
Putri Pakuan di banyak wilayah jatuh ke dalam pelukan agama Islam. Begitu pula
sebagian Panglima Perangnya.
Perundingan
Yang Sangat Menentukan
Satu hal yang sangat
unik dari personaliti Syarif Hidayatullah adalah dalam riwayat jatuhnya Pakuan
Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda pada tahun 1568 hanya
setahun sebelum ia wafat dalam usia yang sangat sepuh hampir 120 tahun (1569).
Diriwayatkan dalam perundingan terakhir dengan para Pembesar istana Pakuan,
Syarif Hidayat memberikan 2 opsi.
Yang pertama Pembesar
Istana Pakuan yang bersedia masuk Islam akan dijaga kedudukan dan martabatnya
seperti gelar Pangeran, Putri atau Panglima dan dipersilakan tetap tinggal di
keraton masing-masing. Yang ke dua adalah bagi yang tidak bersedia masuk Islam
maka harus keluar dari keraton masing-masing dan keluar dari ibukota Pakuan
untuk diberikan tempat di pedalaman Banten wilayah Cibeo sekarang.
Dalam perundingan
terakhir yang sangat menentukan dari riwayat Pakuan ini, sebagian besar para
Pangeran dan Putri-Putri Raja menerima opsi ke 1. Sedang Pasukan Kawal Istana
dan Panglimanya (sebanyak 40 orang) yang merupakan Korps Elite dari Angkatan
Darat Pakuan memilih opsi ke 2. Mereka inilah cikal bakal penduduk Baduy Dalam
sekarang yang terus menjaga anggota pemukiman hanya sebanyak 40 keluarga karena
keturunan dari 40 pengawal istana Pakuan. Anggota yang tidak terpilih harus
pindah ke pemukiman Baduy Luar.
Yang menjadi perdebatan
para ahli hingga kini adalah opsi ke 3 yang diminta Para Pendeta Sunda Wiwitan.
Mereka menolak opsi pertama dan ke 2. Dengan kata lain mereka ingin tetap
memeluk agama Sunda Wiwitan (aliran Hindu di wilayah Pakuan) tetapi tetap
bermukim di dalam wilayah Istana Pakuan.
Sejarah membuktikan
hingga penyelidikan yang dilakukan para Arkeolog asing ketika masa penjajahan
Belanda, bahwa istana Pakuan dinyatakan hilang karena tidak ditemukan sisa-sisa
reruntuhannya. Sebagian riwayat yang diyakini kaum Sufi menyatakan dengan
kemampuan yang diberikan Allah karena doa seorang Ulama yang sudah sangat sepuh
sangat mudah dikabulkan, Syarif Hidayat telah memindahkan istana Pakuan ke alam
ghaib sehubungan dengan kerasnya penolakan Para Pendeta Sunda Wiwitan untuk tidak
menerima Islam ataupun sekadar keluar dari wilayah Istana Pakuan.
Bagi para sejarawan, ia
adalah peletak konsep Negara Islam modern ketika itu dengan bukti berkembangnya
Kesultanan Banten sebagi negara maju dan makmur mencapai puncaknya 1650 hingga
1680 yang runtuh hanya karena pengkhianatan seorang anggota istana yang dikenal
dengan nama Sultan Haji.
Dengan segala jasanya
umat Islam di Jawa Barat memanggilnya dengan nama lengkap Syekh Maulana Syarif
Hidayatullah Sunan Gunung Jati Rahimahullah.
Sunan
Kalijaga
Sunan
Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo yang
sangat lekat dengan Muslim di
Pulau Jawa,
karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke
dalam tradisi Jawa.
Makamnya berada di Kadilangu, Demak.
Riwayat
Masa hidup Sunan Kalijaga
diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa
akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478),
Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten,
bahkan juga Kerajaan Pajang yang
lahir pada 1546 serta
awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah
pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula
merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang
"tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama
masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.
Kelahiran
Sunan
Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan
nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang
bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara
lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden
Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal
dari Desa Kalijaga di Cirebon.
Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali),
atau jaga kali.
Silsilah
Mengenai asal usul
beliau, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa beliau juga masih
keturunan Arab.
Tapi, banyak pula yang menyatakan ia orang Jawa asli.
Van Den Berg menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab
yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Sementara itu
menurut Babad Tuban menyatakan bahwaAria Teja alias 'Abdul
Rahman berhasil mengislamkan Adipati Tuban, Aria Dikara, dan mengawini
putrinya. Dari perkawinan ini ia memiliki putra bernama Aria Wilatikta. Menurut
catatan Tome Pires, penguasa Tuban pada tahun 1500 M adalah cucu dari peguasa
Islam pertama di Tuban. Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said adalah putra Aria
Wilatikta. Sejarawan lain seperti De Graaf membenarkan bahwa Aria Teja I
('Abdul Rahman) memiliki silsilah dengan Ibnu Abbas, paman Muhammad.
Sunan Kalijaga mempunyai tiga anak salah satunya adalah Umar Said atau Sunan Muria.
Pernikahan
Dalam satu riwayat,
Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak,
dan mempunyai 3 putra: R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi
Rakayuh dan Dewi Sofiah.
Berda'wah
Menurut cerita, Sebelum
menjadi Walisongo,
Raden Said adalah seorang perampok yang selalu mengambil hasil bumi di gudang
penyimpanan Hasil Bumi. Dan hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada
orang-orang yang miskin. Suatu hari, Saat Raden Said berada di hutan, ia
melihat seseorang kakek tua yang bertongkat. Orang itu adalah Sunan Bonang.
Karena tongkat itu dilihat seperti tongkat emas, ia merampas tongkat itu.
Katanya, hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang yang miskin. Tetapi,
Sang Sunan Bonang tidak membenarkan cara itu. Ia menasihati Raden Said
bahwa Allah tidak
akan menerima amal yang buruk. Lalu, Sunan Bonang menunjukan pohon aren emas
dan mengatakan bila Raden Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha, maka
ambillah buah aren emas yang ditunjukkan oleh Sunan Bonang. Karena itu, Raden
Said ingin menjadi murid Sunan Bonang. Raden Said lalu menyusul Sunan Bonang ke
Sungai. Raden Said berkata bahwa ingin menjadi muridnya. Sunan Bonang lalu
menyuruh Raden Said untuk bersemedi sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan
ke tepi sungai. Raden Said tidak boleh beranjak dari tempat tersebut sebelum
Sunan Bonang datang. Raden Said lalu melaksanakan perintah tersebut. Karena
itu,ia menjadi tertidur dalam waktu lama. Karena lamanya ia tertidur, tanpa
disadari akar dan rerumputan telah menutupi dirinya. Tiga tahun kemudian, Sunan
Bonang datang dan membangunkan Raden Said. Karena ia telah menjaga tongkatnya
yang ditanjapkan ke sungai, maka Raden Said diganti namanya menjadi Kalijaga.
Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi pelajaran agama oleh Sunan Bonang.
Kalijaga lalu melanjutkan dakwahnya dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga.
Dalam dakwah, ia punya
pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang.
Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf"
-bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan
kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
Ia sangat toleran pada
budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang
pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil
memengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan
sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga
terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang,
gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya
yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Dialah
menggagas baju takwa, perayaan sekatenan,
garebeg maulud, serta lakon carangan Layang
Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu ("Petruk Jadi Raja").
Lanskap pusat kota
berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula
dikonsep oleh Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut
sangat efektif.
Sebagian besar adipati
di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga; di antaranya adalah adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas,
sertaPajang.
Wafat
Ketika wafat, beliau
dimakamkan di Desa Kadilangu,
dekat kota Demak (Bintara).
Makam ini hingga sekarang masih ramai diziarahi orang.
Sunan
Giri
Sunan Giri adalah
nama salah seorang Walisongo dan
pendiri kerajaan Giri Kedaton,
yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur.
Ia lahir di Blambangan tahun 1442.
Sunan Giri memiliki beberapa nama panggilan, yaitu Raden Paku, Prabu
Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden 'Ainul Yaqin dan Joko
Samudra. Ia dimakamkan di desa Giri, Kebomas,
Gresik.
Silsilah
Beberapa babad
menceritakan pendapat yang berbeda mengenai silsilah Sunan Giri. Sebagian babad berpendapat
bahwa ia adalah anak Maulana Ishaq, seorang mubaligh yang datang dari Asia Tengah.
Maulana Ishaq diceritakan menikah dengan Dewi Sekardadu, yaitu putri dari Menak
Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir kekuasaan Majapahit.
Pendapat lainnya yang
menyatakan bahwa Sunan Giri juga merupakan keturunan Rasulullah SAW, yaitu
melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal
Abidin, Muhammad
al-Baqir, Ja'far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi,
Muhammad an-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah,
Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali' Qasam, Muhammad Shahib Mirbath,
Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad
Syah Jalal (Jalaluddin Khan), Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana
Akbar), Maulana Ishaq, dan 'Ainul Yaqin (Sunan Giri). Umumnya
pendapat tersebut adalah berdasarkan riwayat pesantren-pesantren Jawa Timur,
dan catatan nasab Sa'adah BaAlawi Hadramaut.
Dalam Hikayat Banjar,
Pangeran Giri (alias Sunan Giri) merupakan cucu Putri Pasai (Jeumpa?) dan
Dipati Hangrok (alias Brawijaya VI).
Perkawinan Putri Pasai dengan Dipati Hangrok melahirkan seorang putera. Putera
ini yang tidak disebutkan namanya menikah dengan puteri Raja Bali, kemudian
melahirkan Pangeran Giri. Putri Pasai adalah puteri Sultan Pasai yang diambil
isteri oleh Raja Majapahit yang bernama Dipati Hangrok (alias Brawijaya VI).
Mangkubumi Majapahit masa itu adalaha Patih Maudara.
Kisah
Sunan Giri merupakan
buah pernikahan dari Maulana Ishaq,
seorang mubaligh Islam dari Asia Tengah, dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu penguasa wilayah
Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit. Namun kelahirannya dianggap telah
membawa kutukan berupa wabah penyakit di wilayah tersebut. Maka ia dipaksa
ayahandanya (Prabu Menak Sembuyu) untuk membuang anak
yang baru dilahirkannya itu. Lalu, Dewi Sekardadu dengan rela menghanyutkan anaknya
itu ke laut/selat bali sekarang ini.
Versi lain menyatakan
bahwa pernikahan Maulana Ishaq-Dewi Sekardadu tidak mendapat respon baik dari
dua patih yang sejatinya ingin menyunting dewi sekardadu (putri tunggal Menak
sembuyu sehingga kalau jadi suaminya, merekalah pewaris tahta kerajaan. Ketika
Sunan Giri lahir, untuk mewujudkan ambisinya, kedua patih membuang bayi sunan
giri ke laut yang dimasukkan ke dalam peti.[rujukan?]
Kemudian, bayi tersebut
ditemukan oleh sekelompok awak kapal (pelaut) - yakni sabar dan sobir - dan
dibawa ke Gresik. Di Gresik, dia diadopsi oleh seorang saudagar perempuan
pemilik kapal, Nyai Gede Pinatih. Karena ditemukan di laut, dia menamakan bayi
tersebut Joko Samudra.
Ketika sudah cukup
dewasa, Joko Samudra dibawa ibunya ke Ampeldenta (kini di Surabaya)
untuk belajar agama kepada Sunan Ampel. Tak berapa lama
setelah mengajarnya, Sunan Ampel mengetahui identitas sebenarnya dari murid
kesayangannya itu. Kemudian, Sunan Ampel mengirimnya beserta Makdhum Ibrahim (Sunan Bonang),
untuk mendalami ajaran Islam di Pasai. Mereka diterima oleh Maulana Ishaq yang
tak lain adalah ayah Joko Samudra. Di sinilah, Joko Samudra, yang ternyata
bernama Raden Paku, mengetahui asal-muasal dan alasan mengapa dia dulu
dibuang.
Dakwah
dan kesenian
Setelah tiga tahun
berguru kepada ayahnya, Raden Paku atau lebih dikenal dengan Raden 'Ainul
Yaqin kembali ke Jawa. Ia kemudian mendirikan sebuah pesantren giri di
sebuah perbukitan didesa Sidomukti, Kebomas. Dalam bahasa Jawa, giri berarti
gunung. Sejak itulah, ia dikenal masyarakat dengan sebutan Sunan Giri.
Pesantren Giri kemudian
menjadi terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa,
bahkan pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi,
dan Maluku.
Pengaruh Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil yang
disebut Giri Kedaton, yang menguasai Gresik dan sekitarnya selama beberapa
generasi sampai akhirnya ditumbangkan olehSultan Agung.
Terdapat beberapa
karya seni tradisional Jawa
yang sering dianggap berhubungkan dengan Sunan Giri, diantaranya adalah
permainan-permainan anak
seperti Jelungan, Lir-ilir dan Cublak Suweng; serta
beberapa gending (lagu instrumental Jawa) seperti Asmaradana dan Pucung.
Sunan
Kudus
Sunan
Kudus dilahirkan dengan nama Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan. Dia adalah
putra dari pasangan Sunan Ngudung (Sayyid
Utsman Haji) dengan Syarifah Dewi Rahil binti Sunan Bonang.
Lahir pada 9 September 1400M/ 808 Hijriah. Bapaknya yaitu Sunan Ngudung adalah
putra Sultan di Palestina yang bernama Sayyid Fadhal Ali Murtazha (Raja
Pandita/Raden Santri) yang berhijrah fi sabilillah hingga ke Jawa dan sampailah
di Kekhilafahan Islam Demak dan diangkat menjadi Panglima Perang.
Jati
Diri Sunan Kudus
Nama Ja'far Shadiq
diambil dari nama datuknya yang bernama Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad
al-Baqir bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib yang
beristerikan Fatimah az-Zahra binti Muhammad.
Sunan Kudus sejatinya
bukanlah asli penduduk Kudus, ia berasal dan lahir di Al-Quds negara Palestina.
Kemudian bersama kakek, ayah dan kerabatnya berhijrah ke Tanah Jawa.
Nasab
Sunan Kudus
Sunan Kudus adalah
putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah Ruhil atau Dewi
Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan
Ampel. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad. Sunan Kudus bin
Sunan Ngudung bin Fadhal Ali Murtadha bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin
Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik
Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam
bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin
Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali
Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad
Rasulullah
Sunan
Kudus Dalam Babad Tanah Jawi
Babad Tanah Jawi
(selanjutnya disebut BTJ) adalah terjemahan dari Punika Serat Babad Tanah Jawi
Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegiing Taoen 1647 yang disusun oleh W. L. Olthof di
Leiden, Belanda, pada tahun 1941. Seperti pada pengertian babad pada umumnya,
di sini terdapat cerita-cerita tentang pendirian sebuah negara (kerajaan) dan
peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar kerajaan tersebut.
“…Orang di tanah Jawa
taat serta menganut agama Islam. Mereka bermusyawarah akan mendirikan masjid di
Demak. Para wali saling berbagi tugas, semua sudah siap sedia. Hanya Sunan Kali
Jaga yang masih ketinggalan, bagian garapannya belum berbentuk, sebab sedang
tirakat di Pamantingan. Sekembalinya ke Demak, masjid sudah akan didirikan.
Sunan Kali Jaga segera mengumpulkan sisa-sisa kayu bekas sudah menjadi
tiang.Pagi harinya tanggal 1 bulan Dulkangidah masjid didirikan dengan
sengkalan tahun 1428. Kiblat di masjid searah dengan ka’bah di Mekkah. Penghulunya
Sunan Kudus. Setelah beberapa Jumat berdirinya masjid tadi, ketika para wali
sedang berdzikir bersama di masjid itu, Sunan Kudus duduk khusuk bertafakur di
bawah beduk, tiba-tiba ada bungkusan jatuh dari atas-buku kulit kambing, di
dalamnya ada sajadah serta selendang Kanjeng Rasul.”
“Pada waktu itu banyak
orang Jawa yang belajar agama Islam, kedigdayaan, dan kekuatan badan. Ada dua
orang guru yang terkenal, yaitu Sunan Kali Jaga dan Sunan Kudus. Sunan Kudus
itu muridnya tiga orang, yaitu Arya Penansang di Jipang, Sunan Prawata, dan
Sultan Pajang. Yang paling disayang adalah Arya Penansang.
Waktu itu Sunan Kudus
sedang duduk-duduk di rumahnya dengan Pangeran Arya Penansang, Sunan Kudus
berkata kepada Arya Penansang, “Orang membunuh sesama guru itu, hukumnya apa?”
Perlahan jawab Arya Penangsang, “Hukumnya harus dibunuh, tetapi saya belum tahu
siapa yang berbuat demikian itu.” Sunan Kudus berkata,”Kakakmu di Prawata.”
Arya Penansang setelah mendengar perintah Sunan Kudus, bersedia membunuh Sunan
Prawata. Ia lalu mengutus abdi pengawalnya bernama Rangkud dan diperintah untuk
membunuh Sunan Prawata. Rangkud lalu berangkat. Sesampai di Prawata ketemu
dengan Sunan Prawata yang sedang sakit dan bersandar pada istrinya. Setelah
melihat Rangkud Sunan Prawata bertanya, “Kamu itu orang siapa?” Rangkud
menjawab, “Saya adalah utusan Arya Penansang, memerintahkan untuk membunuhmu.”
Sunan Prawata berkata, “Ya, terserah, tetapi saya sendiri sajalah yang engkau
bunuh, jangan mengikutkan orang lain.” Rangud lalu menusuk sekuat-kuatnya. Dada
Sunan Prawata tembus sampai ke punggungnya serta menembus dada istrinya. Sunan
Prawata setelah melihat istrinya terluka, segera mencabut kerisnya yang bernama
Kyai Betok, lalu dilemparkan ke Rangkud. Si Rangkud tergores oleh kembang
kacang (hiasan pada pangkal keris), ia jatuh di tanah lalu tewas. Sunan Prawata
dan isterinya juga meninggal dunia. Meninggalnya ber-sinengkalan tahun 1453.
Arya Penangsang begitu tega membunuh Sunan Prawata sebab ayahnya juga dibunuh
oleh Sunan Prawata, saat pulang dari sholat Jum'at. Ia dicegat di tengah jalan
oleh utusan Sunan Prawata bernama Sura Yata. Ki Sura Yata tadi juga sudah
dibunuh oleh teman ayahnya Arya Jipang.
Sunan Prawata tadi
mempunyai saudara perempuan namanya Ratu Kali Nyamat. Dia begitu tidak terima
atas kematian saudara laki-lakinya itu. Lalu berangkat ke Kudus bersama
suaminya berniat minta keadilan kepada Sunan Kudus. Lalu jawab Sunan Kudus,
“Kakakmu itu sudah hutang pati pada Arya Penangsang. Sekarang tinggal membayar
hutang itu saja.” Ratu Kali Nyamat mendengar jawaban Sunan Kudus itu sangat
sakit hatinya. Lalu kembali pulang. Di tengah jalan dibegal utusannya Arya
Penansang. Laki-lakinya dibunuh. Ratu Kali Nyamat sangat terpukul hatinya.
Sebab baru saja kehilangan saudaranya, lalu kehilangan suaminya. Ia jadi sangat
menderita. Lalu bertapa telanjang di Bukit Dana Raja. Sebagai ganti kain untuk
menutup auratnya adalah rambutnya yang diurai. Ratu Kalinyamat berprasetia
tidak mau memakai kain selama hidup jika Arya Penansang belum meninggal. Ia
bernadar barangsiapa dapat membunuh Arya Jipang, dia akan mengabdi kepadanya
dan akan menyerahkan seluruh kekayaannya.
Pada suatu ketika Sunan
Kudus sedang berbincang-bincang dengan Arya Penangsang, Sunan Kudus berkata,
“Kakakmu Sunan Prawata dan Kali Nyamat sekarang sudah mati, tapi belum lega
rasanya kalau belum menguasai tanah Jawa semua. Jika masih ada adikmu Sultan
Pajang saya kira tidak mungkin bisa jadi raja, sebab dia adalah penghalang.”
Arya Penansang berkata, “Jika diperkenankan atas izin Sunan Kudus, Pajang akan
saya gempur dengan perang, adik saya di Pajang akan saya bunuh supaya tidak ada
penghalang.” Sunan Kudus menjawab, “Maksudmu itu saya kurang setuju sebab akan
merusak negara serta banyak korban. Adapun maksud saya, kakakmu di Pajang bisa
mati, secara diam-diam saja, jangan diketahui banyak orang.” Arya Penangsang
menjawab sangat setuju. Lalu mengutus abdi pengawal untuk menculik dan membunuh
Sultan Pajang. Utusan segera berangkat. Datang di Pajang tengah malam, lalu
masuk ke dalam istana. Sultan Pajang sedang tidur berselimut kain kampuh,
jarik/kain sarung. Para istrinya tidur di bawah. Utusan menerjang dan menusuk
dengan sekuat tenaga. Sultan Pajang tidak mempan (kebal), masih enak tidur
saja. Kain yang digunakan untuk berselimut itu pun tidak tertembus. Para isrti
terkejut, bangun, menangis, dan menjerit. Sultan Pajang terkejut juga dan
bangun. Kain selimut terlempar menerpa para utusan itu, mereka terjatuh
terkapar di tanah, tiak ada yang dapat pergi….”
Asal-Usul
Nama Kota Kudus
Dahulu kota Kudus masih bernama Tajug. Kata warga
setempat, awalnya ada Kyai Telingsing yang mengembangkan kota ini. Telingsing
sendiri adalah panggilan sederhana kepada The Ling Sing, seorang Muslim Cina
asal Yunnan, Tiongkok. Ia sudah ada sejak abad ke-15 Masehi dan menjadi cikal
bakal Tionghoa muslim di Kudus. Kyai Telingsing seorang ahli seni lukis dari
Dinasti Sung yang terkenal dengan motif lukisan Dinasti Sung, juga sebagai
pedagang dan mubaligh Islam terkemuka. Setelah datang ke Kudus untuk menyebarkan
Islam, didirikannya sebuah masjid dan pesantren di kampung Nganguk. Raden
Undung yang kemudian bernama Ja’far Thalib atau lebih dikenal dengan nama Sunan
Kudus adalah salah satu santrinya yang ditunjuk sebagai penggantinya kelak.
Kota ini sudah ada perkembangan
tersendiri sebelum kedatangan Ja’far Shodiq. Beberapa kiah tutur percaya bahwa
Ja’far itu seorang penghulu Demak yang menyingkir dari kerajaan. Awal kehidupan
Sunan Kudus di Kudus adalah dengan berada di tengah-tengah jamaah dalam
kelompok kecil. Penafsiran lainnya itu memperkirakan bahwa kelompok kecilnya
itu adalah para santrinya sendiri yang dibawa dari Demak sana, sekaligus juga
tentara yang siap memerangi Majapahit. Versi lainnya mereka itu adalah warga
setempat yang dipekerjakannya untuk menggarap tanah ladang. Berarti ada
kemungkinan juga Ja’far memenuhi kebutuhan hidupnya di Kudus dimulai dengan
menggarap ladang.
Fakta
Mengenai Sunan Kudus
Sunan Kudus berhasil
menampakkan warisan budaya dan tanda dakwah islamiyahnya yang dikenal dengan pendekatan
kultural yang begitu kuat. Hal ini sangat nampak jelas pada Menara Kudus yang
merupakan hasil akulturasi budaya antara Hindu-China-Islam yang sering
dikatakan sebagai representasi menara multikultural. Aspek material dari Menara
Kudus yang membawa kepada pemaknaan tertentu melahirkan ideologi pencitraan
tehadap Sunan Kudus. Oleh Roland Barthes disebut dengan mitos (myth), yang
merupakan system komunikasi yang memuat pesan (sebuah bentuk penandaan). Ia tak
dibatasi oleh obyek pesannya, tetapi cara penuturan pesannya. Mitos Sunan Kudus
selain dapat ditemui pada peninggalan benda cagar budayanya, juga bisa
ditemukan di dalam sejarah, gambar, legenda, tradisi, ekspresi seni maupun
cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat Kudus. Kini ia populer
sebagai seorang wali yang toleran, ahli ilmu, gagah berani, kharismatik, dan
seniman.
Satu fakta utama yang
dapat masyarakat lihat pada mata uang kertas Rp. 5.000,00 dengan gambar Menara
Kudus. Ini merupakan suatu bentuk apresiasi dari Gubernur Bank Indonesia yang
dijabat oleh Arifin Siregar pada masa itu. Berikut petikan sambutannya: “…Kami
sewaktu bertugas sebagai Gubernur Bank Indonesia mendapat kesempatan untuk
mengeluarkan uang kertas Lima Ribu Rupiah dengan gambar Menara Kudus. Hal ini
kami lakukan antara lain mengingat keindahan dan kenggunan Menara Kudus.
Disamping itu Menara Kudus merupakan salah satu peninggalan sejarah Indonesia
yang perlu dilestarikan dan diperkenalkan kepada masyarakat kita dan juga
khalayak luar negeri.”
Mengenai hari jadi kota
Kudus sendiri (23 September 1549, berdasarkan Perda No. 11 Tahun 1990 yang
diterbitkan tanggal 6 Juli 1990) memang tak bisa dilepaskan dari patriotisme
Sunan Kudus sendiri. Bukti nyatanya dapat dilihat dalam inskripsi yang terdapat
pada Mihrab di Masjid Al-Aqsa Kudus yang dibangun pada 956 H/1549 M oleh Sunan
Kudus. Maka dalam setiap perayaan hari jadinya tak pernah lupa semangat dan
patriotisme Sunan Kudus dalam memajukan rakyat dan ummatnya.
Menurut Muliadi via
Castles (1982); Ismudiyanto dan Atmadi (1987); dan Suharso (1992), menyebutkan
bahwa: “ Dalam sejarah, Kudus Kulon dikenal sebagai kota lama dengan diwarnai
oleh kehidupan keagamaan dan adat istiadatnya yang kuat dan khas serta
merupakan tempat berdirinya Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus; serta
merupakan pusat tempat berdirinya rumah-rumah asli (adat pencu). Sementara
Kudus Wetan terletak di sebelah Timur Sungai Gelis, dan merupakan daerah pusat
pemerintahan, pusat transportasi, dan daerah pusat perdagangan.”
Salah satu bentuknya
ialah tarian Buka Luwur yang menggambarkan sejarah perjalanan masyarakat Kudus
sepeninggal Sunan Kudus hingga terbentuk satuan wilayah yang disebut Kudus.
Tradisi ini telah menjadi kegiatan rutin pengurus Menara Kudus setiap tanggal
10 Muharram dengan dukungan umat Islam baik di Kudus maupun sekitarnya. Ini
merupakan prosesi pergantian kelambu pada makam Sunan Kudus diiringi doa-doa
dan pembacaan kalimah toyyibah (tahlil, shalawat, istigfar, dan surat-surat
pendek al-quran yang sebelumnya telah didahului dengan khataman quran secara
utuh).
Ada lagi tradisi
Dhandangan yang digelar setahun sekali menjelang bulan Ramadhan. Pada masa
Sunan Kudus tradisi ini ditandai dengan pemukulan bedug di atas Menara Kudus
(berbunyi dhang dhang dhang). Tradisi ini pun memperkuat eksistensi Sunan
Kudus. Selain itu masyarakat Kudus hingga saat ini tak pernah berani
menyembelih sapi/lembu sebagai suatu penghormatan kepada Sunan Kudus yang mana
dakwahnya menekankan unsure kebijaksanaan dan toleransi karena kala itu
masyarakat Kudus masih beragama Hindu yang mensucikan hewan lembu. Kini, setiap
Kamis malam makam Kanjeng Sunan Kudus selalu ramai oleh peziarah dengan beragam
latar beragam latar belakang dan etnis, dari berbagai daerah. Mereka datang
dengan beragam cara, baik sendiri maupun bersama rombongan. Pada momen-momen
tertentu ada yang datang dari mancanegara.
Fenomena pencitraan ini
berhasil menjadi sumber penggerak dalam bertindak (untuk beberapa hal),
Bourdieu menyebutnya sebagai “tindakan yang bermakna” baik keberagamaan maupun
fenomena budaya lainnya. Citra Sunan Kudus dalam masyarakat Kudus telah
melewati kuasa dan pertarungan sistem tanda yang merekontruksi budaya lokal
mereka. Suatu tandanya dapat dihubungkan dengan tanda lain yang dapat ditemui
dalam model keberagamaan maupun kontruksi budaya masyarakat agama (Islam).
Jadilah mereka memiliki identitas keislaman yang khas dan unik serta memiliki
warisan spirit dan patriotisme yang melegenda. Hal ini terus digali hingga
menjadi model dalam sosial-budaya dan sikap keberagamaan umat Islam (suatu
identitas kultural).
Pendidikan
Sunan Kudus
Kanjeng Sunan Kudus
(selanjutnya disingkat KSK) banyak berguru kepada Sunan Kalijaga dan ia
menggunakan gaya berdakwah ala gurunya itu yang sangat toleran pada budaya
setempat serta cara penyampaian yang halus. Didekatinya masyarakat dengan
memakai simbol-simbol Hindu-Budha seperti yang nampak pada gaya arsitektur
Masjid Kudus. Suatu waktu saat KSK ingin menarik simpati masyarakat untuk
mendatangi masjid guna mendengarkan tabligh akbarnya, ia tambatkan Kebo
Gumarang (sapinya) di halaman masjid. Masyarakat yang saat itu memeluk agama
Hindu pun bersimpati, dan semakin bersimpati selepas mendengarkan ceramah KSK
mengenai “sapi betina” atau Al-Baqarah dalam bahasa Al-qurannya. Teknik lainnya
lagi adalah dengan mengubah cerita ketauhidan menjadi berseri, betujuan menarik
rasa penasaran masyarakat.
Dakwah
Sunan Kudus
Beliau adalah Sunan
Kudus yang bernama asli Syekh Ja’far Shodiq. Beliau pula yang menjadi salah
satu dari anggota Wali Sanga sebagai penyebar Islam di Tanah Jawa. Sosok Sunan
Kudus begitu sentral dalam kehidupan masyarakat Kudus dan sekitarnya.
Kesentralan itu terwujud dikarenakan Sunan Kudus telah memberikan pondasi
pengajaran keagamaan dan kebudayaan yang toleran.
Tak heran, jika hingga
sekarang makam beliau yang berdekatan dengan Menara Kudus selalu ramai
diziarahi oleh masyarakat dari berbagai penjuru negeri. Selain itu, hal
tersebut sebagai bukti bahwa ajaran toleransi Sunan Kudus tak lekang oleh zaman
dan justru semakin relevan ditengah arus radikalisme dan fundamentalisme
beragama yang semakin marak dewasa ini.
Dalam perjalanan
hidupnya, Sunan Kudus banyak berguru kepada Sunan Kalijaga. Cara berdakwahnya
pun sejalan dengan pendekatan dakwah Sunan Kalijaga yang menekankan kearifan
lokal dengan mengapresiasi terhadap budaya setempat.
Beberapa nilai
toleransi yang diperlihatkan oleh Sunan Kudus terhadap pengikutnya yakni dengan
melarang menyembelih sapi kepada para pengikutnya. Bukan saja melarang untuk
menyembelih, sapi yang notabene halal bagi kaum muslim juga ditempatkan di
halaman masjid kala itu.
Langkah Sunan Kudus
tersebut tentu mengundang rasa simpatik masyarakat yang waktu itu menganggap
sapi sebagai hewan suci. Mereka kemudian berduyun-duyun mendatangi Sunan Kudus
untuk bertanya banyak hal lain dari ajaran yang dibawa oleh beliau.
Lama-kelamaan, bermula
dari situ, masyarakat semakin banyak yang mendatangi masjid sekaligus
mendengarkan petuah-petuah Sunan Kudus. Islam tumbuh dengan cepat. Mungkin akan
menjadi lain ceritanya jika Sunan Kudus melawan arus mayoritas dengan
menyembelih sapi.
Selain berdakwah lewat
sapi, bentuk toleransi sekaligus akulturasi Sunan Kudus juga bisa dilihat pada
pancuran atau padasan yang berjumlah delapan yang sekarang difungsikan sebagai
tempat berwudlu. Tiap-tiap pancurannya dihiasi dengan relief arca sebagai
ornamen penambah estetika. Jumlah delapan pada pancuran mengadopsi dari ajaran
Budha yakni Asta Sanghika Marga atau Delapan Jalan Utama yang menjadi pegangan
masyarakat saat itu dalam kehidupannya. Pola akulturasi budaya lokal
Hindu-Budha dengan Islam juga bisa dilihat dari peninggalan Sunan Kudus berupa
menara. Menara Kudus bukanlah menara yang berarsitektur bangunan Timur Tengah,
melainkan lebih mirip dengan bangunan Candi Jago atau serupa juga dengan bangunan
Pura di Bali.
Menara tersebut
difungsikan oleh Sunan Kudus sebagai tempat adzan dan tempat untuk memukul
bedug setiap kali datangnya bulan Ramadhan. Kini, menara yang konon merupakan
menara masjid tertua di wilayah Jawa tersebut dijadikan sebagai landmark
Kabupaten Kudus.
Strategi (akulturasi)
dakwah Sunan Kudus adalah suatu hal yang melampaui zamannya. Melampaui zaman
karena dakwah dengan mengusung nilai-nilai akulturasi saat itu belumlah ramai
dipraktikkan oleh penyebar Islam di Indonesia pada umumnya.
Kini, toleransi
beragama berada di titik nadir. Ironisnya, toleransi beragama tak cuma menjadi
barang mahal tetapi sudah terlalu langka. Dengan jalan menghidupkan kembali
esensi serta spirit dakwah Sunan Kudus, kiranya masyarakat muslim bisa
mengembalikan lagi wajah Islam yang ramah dan toleran setelah sebelumnya
dihinggapi oleh stigma negatif.Ajaran Toleransi Ala Sunan Kudus.
Karya
Sunan Kudus
Pada tahun 1530, Sunan
Kudus mendirikan sebuah mesjid di desa Kerjasan, Kota Kudus,
yang kini terkenal dengan nama Masjid Agung Kudus dan masih
bertahan hingga sekarang. Sekarang Masjid Agung Kudus berada di alun-alun kota
Kudus Jawa Tengah. Peninggalan lain dari Sunan Kudus adalah permintaannya
kepada masyarakat untuk tidak memotong hewan kurban sapi dalam perayaan Idul
Adha untuk menghormati masyarakat penganut agama Hindu dengan mengganti kurban
sapi dengan memotong kurban kerbau, pesan untuk memotong kurban kerbau ini
masih banyak ditaati oleh masyarakat Kudus hingga saat ini.
Wafatnya
Sunan Kudus
Pada tahun 1550 M Sunan
Kudus meninggal dunia saat menjadi Imam sholat Subuh di Masjid Menara Kudus,
dalam posisi sujud. kemudian dimakamkan di lingkungan Masjid Menara Kudus.
Keturunan
Sunan Kudus
Di antara keturunan
Sunan Kudus yang menjadi Ulama' dan Tokoh di Indonesia adalah: Syekh Kholil
Bangkalan Azmatkhan Ba'alawi Al-Husaini, Syekh Bahruddin Azmatkhan Ba'alawi
Al-Husaini, dan Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan Ba'alawi
Al-Husaini.
Sunan
Drajat
Sunan
Drajat diperkirakan lahir pada tahun 1470 Masehi.
Nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia
adalah putra dari Sunan Ampel,
dan bersaudara dengan Sunan Bonang.
Ketika dewasa, Sunan
Drajat mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa Drajat, Paciran, Kabupaten Lamongan.
Sunan Drajat yang
mempunyai nama kecil Syarifudin atau raden Qosim putra Sunan Ampel dan
terkenal dengan kecerdasannya. Setelah menguasai pelajaran islam beliau
menyebarkan agama Islam di desa Drajat sebagai tanah perdikan di kecamatan
Paciran. Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan
Mayang Madu oleh Raden Patah pada
tahun saka 1442/1520 masehi.
Makam Sunan Drajat
dapat ditempuh dari Surabaya maupun Tuban lewat Jalan Daendels (Anyar-Panarukan), namun bila lewat
Lamongan dapat ditempuh 30 menit dengan
kendaraan pribadi.
Sejarah
singkat
Sunan Drajat bernama kecil Raden Syarifuddin atau
Raden Qosim putra Sunan Ampel yang terkenal cerdas. Setelah pelajaran Islam
dikuasai, beliau mengambil tempat di Desa Drajat wilayah Kecamatan Paciran
Kabupaten Lamongan sebagai pusat kegiatan dakwahnya sekitar abad XV dan
XVI Masehi.
Ia memegang kendali keprajaan di wilayah perdikan Drajat sebagai otonomkerajaan Demak selama 36 tahun.
Beliau sebagai Wali penyebar
Islam yang terkenal berjiwa sosial, sangat memperhatikan nasib kaum fakir
miskin. Ia terlebih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial baru memberikan
pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasi lebih ditekankan pada etos kerja
keras, kedermawanan untuk mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran.
Usaha ke arah itu
menjadi lebih mudah karena Sunan Drajat memperoleh kewenangan untuk mengatur
wilayahnya yang mempunyai otonomi.
Sebagai penghargaan
atas keberhasilannya menyebarkan agama Islam dan usahanya menanggulangi
kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, beliau
memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Patah Sultan Demak pada
tahun saka 1442 atau 1520 Masehi.
Filosofi
Sunan Drajat
Filosofi Sunan Drajat
dalam pengentasan kemiskinan kini terabadikan dalam sap tangga ke tujuh dari
tataran komplek Makam Sunan Drajat. Secara lengkap makna filosofis ke tujuh sap
tangga tersebut sebagai berikut :
Memangun resep tyasing
Sasoma (kita selalu membuat senang hati orang lain)
Jroning suka kudu éling
lan waspada (di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada)
Laksmitaning subrata
tan nyipta marang pringgabayaning lampah (dalam perjalanan untuk mencapai
cita - cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan)
Mèpèr Hardaning
Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)
Heneng - Hening -
Henung (dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan dan dalam
keadaan hening itulah kita akan mencapai cita - cita luhur).
Mulya guna Panca
Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan salat lima
waktu)
Mènèhana teken marang
wong kang wuta, Mènèhana mangan marang wong kang luwé, Mènèhana busana marang
wong kang wuda, Mènèhana ngiyup marang wong kang kodanan (Berilah ilmu
agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin,
Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan
orang yang menderita)
Penghargaan
Dalam sejarahnya Sunan
Drajat juga dikenal sebagai seorang Wali pencipta tembang Mocopat yakni
Pangkur. Sisa - sisa gamelan Singo
mengkok-nya Sunan Drajat kini tersimpan di Museum Daerah.
Untuk menghormati jasa
- jasa Sunan Drajat sebagai seorang Wali penyebar agama Islam di wilayah
Lamongan dan untuk melestarikan budaya serta benda-benda bersejarah
peninggalannya Sunan Drajat, keluarga dan para sahabatnya yang berjasa pada
penyiaran agama Islam, Pemerintah Kabupaten Lamongan mendirikan Museum Daerah
Sunan Drajat disebelah timur Makam.Museum ini
telah diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur tanggal 1 Maret 1992.
Upaya Bupati Lamongan
R. Mohamad Faried, S.H. untuk menyelamatkan dan melestarikan warisan sejarah
bangsa ini mendapat dukungan penuh Gubernur Jawa Timur dengan alokasi dana APBD
I yaitu pada tahun 1992 dengan
pemugaran Cungkup dan pembangunan
Gapura Paduraksa senilai Rp.98 juta dan anggaran Rp.100 juta 202 ribu untuk
pembangunan kembali Mesjid Sunan Drajat yang
diresmikan oleh Menteri
Penerangan RI tanggal 27 Juni 1993.
Pada tahun 1993 sampai 1994 pembenahan
dan pembangunan Situs Makam Sunan Drajat dilanjutkan dengan pembangunan pagar
kayu berukir, renovasi paséban, balé ranté serta Cungkup Sitinggil dengan dana
APBD I Jawa Timur sebesar
RP. 131 juta yang diresmikan Gubernur Jawa Timur M. Basofi Sudirman tanggal 14 Januari 1994.
Sunan
Gresik
Sunan
Gresik atau Maulana Malik Ibrahim (w. 1419 M/882 H) adalah nama
salah seorang Walisongo,
yang dianggap yang pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Ia dimakamkan
di desa Gapurosukolilo, kota Gresik, Jawa Timur
Asal
keturunan
Tidak terdapat bukti
sejarah yang meyakinkan mengenai asal keturunan Maulana Malik Ibrahim, meskipun
pada umumnya disepakati bahwa ia bukanlah orang Jawa asli.
Sebutan Syekh Maghribiyang diberikan masyarakat kepadanya, kemungkinan
menisbatkan asal keturunannya dari wilayah Arab Maghrib di Afrika Utara.
Babad Tanah Jawi versi J.J.
Meinsma menyebutnya dengan nama Makhdum Ibrahim as-Samarqandy, yang mengikuti
pengucapan lidah Jawa menjadi Syekh Ibrahim Asmarakandi. Ia memperkirakan
bahwa Maulana Malik Ibrahim lahir di Samarkand, Asia Tengah,
pada paruh awal abad 14.
Dalam keterangannya
pada buku The History of Java mengenai
asal mula dan perkembangan kota Gresik, Raffles menyatakan
bahwa menurut penuturan para penulis lokal, "Mulana Ibrahim,
seorang Pandita terkenal berasal dari Arabia, keturunan
dari Jenal Abidin, dan sepupu raja Chermen (sebuah
negara Sabrang), telah menetap bersama para Mahomedans lainnya di Desa
Lerandi Jang'gala".
Namun demikian, kemungkinan
pendapat yang terkuat adalah berdasarkan pembacaan J.P. Moquette atas baris
kelima tulisan pada prasasti makamnya di desa Gapura Wetan, Gresik; yang
mengindikasikan bahwa ia berasal dari Kashan, suatu tempat di Iran sekarang. Terdapat beberapa versi mengenai silsilah
Maulana Malik Ibrahim. Ia pada umumnya dianggap merupakan keturunan Rasulullah SAW,
melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal
Abidin,Muhammad al-Baqir, Ja'far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi,
Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah,
Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali' Qasam, Muhammad Shahib Mirbath,
Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad
Syah Jalal, Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana
Akbar), dan Maulana Malik Ibrahim, yang berarti ia adalah keturunan orang Hadrami yang
berhijrah.
Penyebaran
agama
Maulana Malik Ibrahim
dianggap termasuk salah seorang yang pertama-tama menyebarkan agama Islam di
tanah Jawa, dan merupakan wali senior di antara para Walisongo lainnya. Beberapa versi babad menyatakan
bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali
ialah desa Sembalo, sekarang adalah daerah Leran, Kecamatan Manyar,
yaitu 9 kilometer ke arah utara kota Gresik. Ia lalu mulai menyiarkan agama
Islam di tanah Jawa bagian timur, dengan mendirikan mesjid pertama di desa
Pasucinan, Manyar.
Pertama-tama yang
dilakukannya ialah mendekati masyarakat melalui pergaulan. Budi bahasa yang
ramah-tamah senantiasa diperlihatkannya di dalam pergaulan sehari-hari. Ia
tidak menentang secara tajam agama dan kepercayaan hidup dari penduduk asli, melainkan
hanya memperlihatkan keindahan dan kabaikan yang dibawa oleh agama Islam.
Berkat keramah-tamahannya, banyak masyarakat yang tertarik masuk ke dalam agama
Islam.[10]
Sebagaimana yang
dilakukan para wali awal lainnya, aktivitas pertama yang dilakukan Maulana
Malik Ibrahim ialah berdagang. Ia berdagang di tempat pelabuhan terbuka, yang
sekarang dinamakan desa Roomo, Manyar.[11] Perdagangan
membuatnya dapat berinteraksi dengan masyarakat banyak, selain itu raja dan
para bangsawan dapat pula turut serta dalam kegiatan perdagangan tersebut
sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal atau pemodal.[12]
Setelah cukup mapan di
masyarakat, Maulana Malik Ibrahim kemudian melakukan kunjungan ke ibukota Majapahit di Trowulan. Raja Majapahit
meskipun tidak masuk Islam tetapi menerimanya dengan baik, bahkan memberikannya
sebidang tanah di pinggiran kota Gresik. Wilayah itulah yang sekarang dikenal
dengan nama desa Gapura. Cerita rakyat tersebut diduga mengandung unsur-unsur
kebenaran; mengingat menurut Groeneveldt pada saat Maulana Malik Ibrahim hidup,
di ibukota Majapahit telah banyak orang asing termasuk dari Asia Barat.
Demikianlah, dalam
rangka mempersiapkan kader untuk melanjutkan perjuangan menegakkan
ajaran-ajaran Islam, Maulana Malik Ibrahim membuka pesantren-pesantren yang
merupakan tempat mendidik pemuka agama Islam di masa selanjutnya. Hingga saat
ini makamnya masih diziarahi orang-orang yang menghargai usahanya menyebarkan
agama Islam berabad-abad yang silam. Setiap malam Jumat Legi, masyarakat
setempat ramai berkunjung untuk berziarah. Ritual ziarah tahunan
atau haul juga diadakan setiap tanggal 12 Rabi'ul Awwal, sesuai
tanggal wafat pada prasasti makamnya. Pada acara haul biasa
dilakukan khataman Al-Quran, mauludan (pembacaan riwayat
Nabi Muhammad), dan dihidangkan makanan khas bubur harisah.
Legenda
rakyat
Menurut legenda rakyat,
dikatakan bahwa Syeh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik berasal
dari Persia. Syeh Maulana Malik Ibrahim dan Syeh Maulana Ishaq disebutkan
sebagai anak dari Syeh Maulana Ahmad Jumadil Kubro, atau Syekh Jumadil Qubro. Syeh Maulana
Ishaq disebutkan menjadi ulama terkenal di Samudera Pasai, sekaligus ayah dari
Raden Paku atau Sunan Giri.
Syeh Jumadil Qubro dan kedua anaknya bersama-sama datang ke pulau Jawa. Setelah
itu mereka berpisah; Syekh Jumadil Qubro tetap di
pulau Jawa, Syeh Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam Selatan; dan adiknya
Syeh Maulana Ishak mengislamkan Samudera Pasai.
Syeh Maulana Malik
Ibrahim disebutkan bermukim di Champa (dalam
legenda disebut sebagai negeri Chermain atau Cermin) selama tiga belas tahun.
Ia menikahi putri raja yang memberinya dua putra; yaitu Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan
Sayid Ali Murtadha atau Raden Santri. Setelah cukup menjalankan misi dakwah di
negeri itu, ia hijrah ke pulau Jawa dan meninggalkan keluarganya. Setelah
dewasa, kedua anaknya mengikuti jejaknya menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.
Syeh Maulana Malik
Ibrahim dalam cerita rakyat kadang-kadang juga disebut dengan nama Kakek
Bantal. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat
bawah, dan berhasil dalam misinya mencari tempat di hati masyarakat sekitar
yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara.
Selain itu, ia juga
sering mengobati masyarakat sekitar tanpa biaya. Sebagai tabib, diceritakan
bahwa ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Champa.
Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.
Filsafat
Mengenai filsafat
ketuhanannya, disebutkan bahwa Maulana Malik Ibrahim pernah menyatakan mengenai
apa yang dinamakan Allah. Ia berkata: "Yang dinamakan Allah ialah sesungguhnya
yang diperlukan ada-Nya."
Wafat
Setelah selesai
membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, Syeh Maulana Malik
Ibrahim wafat tahun 1419.
Makamnya kini terdapat di desa Gapura, Gresik, Jawa Timur.
Inskripsi dalam bahasa
Arab yang tertulis pada makamnya adalah sebagai berikut:
Ini adalah makam
almarhum seorang yang dapat diharapkan mendapat pengampunan Allah dan yang
mengharapkan kepada rahmat Tuhannya Yang Maha Luhur, guru para pangeran dan
sebagai tongkat sekalian para sultan dan wazir, siraman bagi kaum fakir dan
miskin. Yang berbahagia dan syahid penguasa dan urusan agama: Malik Ibrahim
yang terkenal dengan kebaikannya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya
dan semoga menempatkannya di surga. Ia wafat pada hari Senin 12 Rabi'ul Awwal
822 Hijriah.
Saat ini, jalan yang
menuju ke makam tersebut diberi nama Jalan Malik Ibrahim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar